Suara Migran Nusantara Logo
SASTRA MIGRAN

RINDU YANG BERAT

  Admin2 · 
RINDU YANG BERAT
Gabung di WhatsApp Channel SMN untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang

oleh: Neni Rosini Wahidin

Dua tahun sudah berlalu.

Kini aku menjalani hidup seperti di mana awal aku tidak memiliki apa-apa. Tidak menjadi siapa-siapa. Hanya seorang perempuan dengan tangan kosong dan hati yang penuh rindu.

Rindu itu datang paling deras saat tengah malam. Saat semua orang tidur, aku terjaga. Menangis diam-diam ke dalam bantal agar tidak ada yang mendengar. Menangis mengingat keluarga. Rindu saat semua kebersamaan kami masih utuh. Rindu tawa anakku, rindu nasi hangat dari ibu, rindu nasihat ayah yang selalu bilang, nak kuat ya.

Rindu kedua orang tuaku yang selalu memberi support apapun kondisiku. Bahkan saat aku memutuskan hal paling gila dalam hidupku. Saat itu ibu hanya memelukku erat dan berbisik, berangkatlah nak, demi masa depan. Tapi matanya basah. Dan aku berpura-pura tidak melihat. Ayah hanya mengangguk. Tangannya menepuk pundakku. Kuat ya nak. Tapi suaranya bergetar.

Di sini, di negara Arab, aku hanya seorang diri. Tanpa ada satupun yang menemani. Di kamar sempit, di atas kasur tipis, aku sering memeluk foto anakku sampai fotonya lecek. Kadang aku bicara sendiri. Seolah anakku ada di depan. Nak, ibu pulang bawa hadiah ya. Nak, ibu kerja biar kamu sekolah tinggi.

Perjalananku sangat panjang. Dari awal nekat berangkat menjadi TKI ke Arab, padahal aku memiliki anak umur satu tahun. Aku masih menyusui. Pipiku masih basah karena air susunya, tapi tanganku sudah harus mengepak koper.

Malam terakhir sebelum berangkat, anakku demam. Dia menarik bajuku sambil bilang, ibu jangan pergi. Aku menggendongnya sampai tertidur. Dadaku sesak. Saat subuh aku mencium keningnya, lalu pergi tanpa menoleh. Takut kalau menoleh aku tidak jadi berangkat. Di mobil travel aku menangis sejadi-jadinya. Sopir hanya diam. Mungkin dia sudah biasa melihat perempuan menangis mau merantau.

Karena ekonomi. Karena aku ingin masa depan yang jauh lebih baik. Karena aku tidak mau anakku besar dalam kekurangan.

Aku meninggalkan semuanya demi itu. Demi anakku yang belum bisa bicara tapi sudah harus belajar tanpa ibu di sampingnya. Setiap malam sebelum tidur aku menatap fotonya. Mencium layar HP sampai rasanya dingin di pipi. Video call sering putus. Jaringan jelek. Dan saat tersambung, anakku hanya bertanya, ibu kapan pulang. Pertanyaan itu menghujam. Aku hanya bisa bilang, sebentar lagi nak. Padahal aku sendiri tidak tahu kapan.

Di negara Arab lah aku belajar berdiri sendiri. Meski dunia runtuh, aku tetap berdiri di kakiku sendiri. Aku belajar bahasa dari nol. Dari kata halo, sampai bisa marah dalam bahasa Arab. Aku belajar masak makanan mereka. Belajar aturan yang kadang tidak masuk akal.

Awalnya aku hanya seorang pembantu. Bekerja dari subuh sampai larut malam. Tangan melepuh karena air panas, punggung pegal karena menggosok lantai, tapi mulut harus tetap tersenyum. Majikan marah karena hal kecil. Piring jatuh, aku dipukul. Aku diam. Aku ingat anakku di rumah. Aku ingat hutang di kampung. Aku ingat kata ibu, tahan ya nak.

Ada malam-malam aku muntah karena rindu. Ada malam-malam aku menelpon rumah tapi tidak ada yang angkat. Dan aku hanya bisa duduk di pojokan, memeluk lutut, bertanya pada diri sendiri, sampai kapan. Sampai kapan aku harus seperti ini. Sampai kapan aku harus menahan semua.

Lama-lama, kerja kerasku dilihat. Posisiku naik. Dari pembantu, menjadi supervisor di syarikah Arab. Aku mengatur jadwal, mengurus orang. Aku belajar bahasa. Aku belajar memimpin. Aku belajar negosiasi dengan majikan yang keras kepala.

Dan pada akhir masa kontrak ku, sebuah keajaiban terjadi. Aku diangkat menjadi Investigasi HR.

Tiga tahun. Tiga tahun aku mengabdi di posisi itu. Mengurus semua masalah TKI Indonesia. Dari PT ke PT. Dari awal proses pemberangkatan, sampai mengurus kepulangan mereka yang bermasalah. Aku yang dulu berangkat dengan ketakutan, kini menjadi orang yang menenangkan ratusan TKI lain.

Ada apa mbak, tanyaku dengan bahasa Arab yang sudah fasih. Aku mengurus paspor yang hilang, gaji yang tidak dibayar, majikan yang menyakiti. Aku mengurus jenazah yang harus pulang. Aku yang menelpon keluarga dan bilang, mohon ikhlas. Suaraku harus tegar, padahal dadaku ikut sakit.

Aku merasa bangga. Bangga bisa ada di posisi itu. Bangga karena namaku mulai dikenal. Bangga karena aku bisa membantu orang-orang seperti diriku dulu. Bangga karena akhirnya aku berguna. Karena akhirnya aku bukan hanya penerima bantuan, tapi pemberi bantuan.

Tapi ternyata, jabatan itu hanya sementara. Hanya tiga tahun lamanya.

Kontrak habis. Visa tidak diperpanjang. Kebijakan perusahaan berubah. Surat pemberhentian datang begitu saja. Bosku memelukku dan bilang, terima kasih Neni. Kerja kamu bagus. Tapi tidak ada lagi tempat untukmu di sini. Aku hanya bisa mengangguk. Menahan air mata sampai di kamar.

Dan akhirnya, aku pun kembali ke tanah airku, Indonesia.

Di sinilah kebingungan itu datang. Kegalauan. Putus asa.

Rumah terasa asing. Anakku sudah besar dan canggung memanggil ibu. Dia lebih dekat dengan neneknya. Suamiku sudah terbiasa tanpa aku. Tetangga bertanya, kok sudah pulang, gagal ya. Pertanyaan itu seperti pisau.

Aku rindu aku yang dulu. Aku rindu tempat yang membesarkan namaku. Aku rindu semua masalah yang pernah aku perawakan tentang TKI. Rindu rasanya berguna setiap hari. Rindu punya tujuan bangun pagi. Rindu dikejar deadline. Rindu telepon berdering.

Yang paling aku rindu adalah pesan Mr. A di syarikah. Seorang laki-laki Arab yang logatnya kaku tapi hatinya lembut. Dia pimpinan yang tegas, tapi tidak pernah mempermalukan karyawannya di depan orang.

Setiap kali aku hampir menyerah, dia selalu bilang. Jangan takut untuk memulai dari nol. Tidak ada yang bisa langsung ke angka sepuluh. Begitupun hidupmu dan proses kerjamu. Belajar, gagal. Belajar lagi, gagal lagi, dan jatuh. Kamu harus bangkit lagi. Karena tidak ada, meskipun petinggi dunia, mereka sama seperti kamu. Mulai dari nol. Jadi lanjutkan, selama semangatmu masih ada.

Kalimat itu yang membuatku bertahan saat kangen menyerang. Kalimat itu yang membuatku tidak pulang dengan tangan kosong. Kalimat itu yang aku tulis di catatan HP dan kubaca setiap kali lemah.

Pulangnya ke Indonesia bukan akhir bahagia seperti yang orang bayangkan. Di bandara tidak ada yang menjemput. Suamiku sibuk. Anakku malu memelukku. Aku yang dulu ditunggu-tunggu, kini jadi tamu di rumah sendiri. Semua perabot sudah berubah. Kasurku sudah dipakai orang. Foto-fotoku sudah turun dari dinding.

Aku mencoba melamar kerja. Tapi ijazahku hanya SMA. Pengalamanku sebagai HR di Arab tidak diakui di sini. “Maaf bu, kami butuh S1” kata HRD. “Pengalaman di luar negeri tidak bisa kami pakai” kata yang lain. Aku pulang dengan langkah gontai. Di jalan aku lihat TKW lain turun dari bus. Matanya kosong. Tasnya besar. Dan aku sadar, kami sama-sama kehilangan arah setelah pulang.

Pernah suatu malam aku buka galeri. Isinya chat dengan TKI yang dulu aku tolong. Ada yang bilang terima kasih. Ada yang kirim foto anaknya sudah sekolah karena gajinya cair. Ada yang bilang, kalau bukan karena mbak Neni, saya sudah bunuh diri. Aku menangis sejadi-jadinya. Bukan karena sedih. Tapi karena rindu. Rindu rasanya jadi orang yang berguna. Rindu telepon berdering tengah malam karena ada TKI yang butuh bantuan. Sekarang HP ku sepi. Hanya ada notifikasi jualan online.

Kadang aku berpikir, salahkah aku berangkat dulu. Salahkah aku memilih pergi. Tapi kalau tidak pergi, mungkin anakku sekarang tidak sekolah. Mungkin rumah kami masih bocor. Jadi aku tidak menyesal. Aku hanya rindu.

Kini aku di rumah. Di negeri sendiri. Tapi kenapa rasanya lebih asing daripada di negeri orang. Di negeri orang aku berjuang. Di negeri sendiri aku bingung harus mulai dari mana. Orang-orang melihatku sebagai TKW pulang. Bukan sebagai perempuan yang pernah memimpin ratusan orang.

Anakku sudah besar. Dia memanggil ibu langsung, bukan lewat layar HP lagi. Itu yang dulu aku tangisi. Sekarang terkabul. Tapi kenapa dadaku masih sesak.

Kenapa setiap malam aku masih bermimpi berada di kantor syarikah, masih mengetik laporan, masih menelpon TKI yang menangis. Kenapa aku masih hafal nomor-nomor darurat. Kenapa aku masih mengecek email walau sudah tidak ada email masuk.

Karena aku rindu versi diriku yang berjuang. Rindu perempuan yang bangkit dari nol. Rindu rasa takut yang kubayar dengan keberanian. Rindu diriku yang tidak pernah menyerah.

Malam ini, aku menulis. Seperti dulu aku menulis laporan untuk syarikah. Jariku mengetik di HP sambil anakku tidur di samping. Air mataku jatuh ke layar. Tapi kali ini aku tidak menghapusnya.

Mungkin ini jalanku yang baru. Mungkin dari nol lagi. Mungkin Tuhan sedang memintaku menulis, bukan lagi mengurus.

Seperti kata Mr. A dulu, selama semangat masih ada, lanjutkan.

Dan semangatku belum padam. Karena rindu yang berat ini akan kubayar lunas dengan karya. Dengan cerita. Dengan harapan bahwa ada perempuan lain di luar sana yang membaca ini dan tidak menyerah.


Discover more from suaramigrannusantara.org

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Berita BP2MI Buminu Buruh migran CPMI Ekonomi HAM KP2MI migran Neni Rosini Wahidin pekerja migran PMI Sastra tengah TKI TKW
Berita Terkait
DARI AIR MATA MENUJU JEPANG (Kisah Perjuangan Arifin San dan Gaji Pertamanya)
SASTRA MIGRAN
DARI AIR MATA MENUJU JEPANG (Kisah Perjuangan Arifin San dan Gaji Pertamanya)
2 Oct 2026
AKU LARI BUKAN KARENA JAHAT, TAPI KARENA INGIN TETAP JADI MANUSIA (Kisah Nyata)
SASTRA MIGRAN
AKU LARI BUKAN KARENA JAHAT, TAPI KARENA INGIN TETAP JADI MANUSIA (Kisah Nyata)
1 Oct 2026
DENGAN BORGOL DI TANGAN, TAPI BEBAS DI HATI (KISAH NYATA)
SASTRA MIGRAN
DENGAN BORGOL DI TANGAN, TAPI BEBAS DI HATI (KISAH NYATA)
30 Sep 2026