Suara Migran Nusantara Logo
SASTRA MIGRAN

DENGAN BORGOL DI TANGAN, TAPI BEBAS DI HATI (KISAH NYATA)

  Admin2 · 
DENGAN BORGOL DI TANGAN, TAPI BEBAS DI HATI (KISAH NYATA)
Gabung di WhatsApp Channel SMN untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang

Oleh: Neni Rosini Wahidin

Majikan bilang…..

“Neni, ke kamar kamu! Polisi, lepasin dia! Ini urusan saya!”

Polisi laki-laki langsung menyeret aku ke kursi. Suaranya tegas.

“Ini udah tanggung jawab kami. Kamu udah nyerahin pembantu kamu ke saya. Jadi udah, nggak usah ngobrol lagi.”

Aku duduk. Majikan teriak lagi, kayak orang gila.

“JANGAN DUDUK DI SITU! NANTI KURSINYA KOTOR!”

Semua polisi langsung diam. Kaget. Kepala mereka menoleh bersamaan.

Polisi wanita membisikkan sesuatu kepadaku.

“Neni… aku tahu kamu nggak salah. Ikut kami, ya. Kami proses. Kamu aman.”

Aku jawab, suaraku pecah tapi pasti.

“Iya, Mbak. Tujuan saya juga gitu. Mending tidur di sel daripada di kamar 1×40 cm. Di sel bisa luas. Banyak teman. Di sini saya kesiksa.”

Majikan panik. Langsung telepon agen.

“Ini Neni mau ikut polisi, gimana?!”

Agen di telepon bilang,

“Neni… jangan ikut polisi. Nanti kamu nggak pulang lagi. Diam aja di situ, nanti kami jemput.”

Aku ambil HP.

“Yang laporan majikan, Mam. Bukan saya. Polisi udah di sini. Saya pilih ikut polisi.”

Polisi berkata,

“Barang-barang pembantu, kasih semua. HP, uang.”

Dikasih semua. Semua duitku. HP-ku.

Polisi wanita menggenggam tanganku.

“Neni, ini cuma sementara, ya. Kami borgol kamu. Sampai kantor, nanti dilepas.”

Aku mengangguk.

“Iya, Mbak. Silakan.”

Krek…

Borgol.

Di tangan kiri. Di tangan kanan. Di depan semua orang.

Aku berjalan keluar dari lantai 15 apartemen itu. Digiring polisi. TKW-TKW Indonesia di lobi pada ngelihatin. Bisik-bisik.

“Sabar ya, Teh… Sabar ya, Teh…”

Aku nggak merasa jahat. Aku merasa… lega.

Akhirnya, aku keluar dari rumah neraka itu.

Dengan borgol di tangan… tapi merdeka di hati.

Mobil polisi berbunyi.

Wiu… wiu…

Semua orang di luar apartemen lantai 15 pada menoleh ke aku. Aku nggak menunduk. Aku nggak malu. Aku nggak merasa bersalah.

Justru ini kebanggaanku.

Aku bisa melawan majikan yang menganggap aku bukan manusia.

Sesampainya di kantor polisi, Masya Allah… gedungnya besar banget. Katanya daerah Bedok, Singapura.

Aku masuk kayak tahanan beneran. Disuruh duduk. Nunggu. Lama.

Dua jam aku duduk diam. Polisi hilir mudik. Ada yang ribut. Ada yang nangis. Ada yang berantem.

Serasa neraka.

Tapi aku diam aja.

Nggak lama, ada polisi wanita datang. Bawa roti sama air mineral.

“Kamu minum dulu, ya. Sebentar lagi dipanggil.”

Aku minum sedikit. Tangan masih dingin.

Terus aku disuruh masuk ruang pemeriksaan. Karena waktu itu lagi Corona, aku diambil darah dulu. Tes swab.

Alhamdulillah, negatif.

Aku lolos.

Polisi yang memeriksa aku ngomong bahasa Inggris. Aku jawab bahasa Inggris juga.

“Kok kamu bisa bahasa Inggris?” tanya dia kaget.

“Dulu saya pernah kerja di Hong Kong, Pak.”

“Masya Allah,” katanya. “Udah, sabar, ya.”

Habis itu, data. Paspor. Nama. Semua didata.

30 menit, 1 jam…

Terus aku disuruh masuk sel.

Di dalam sel ada lima cewek.

Pas pintunya dikunci, aku lihat sekeliling.

“Ya Allah… inikah penjara asli Singapura?”

Kamar mandinya nggak ada pintu. Terbuka. Kalau mau kencing, mau BAB, semua orang bisa lihat.

Aku nangis di pojokan.

“Ya Allah… berat banget ujian-Mu.”

Tapi aku sabar. Karena aku nggak salah.

Yang di sel nanya pakai Melayu sama Inggris.

“Kamu kenapa? Kamu bukan orang sini, kan?”

Aku diam. Nggak mau cerita. Cuma nangis.

Nggak mau makan.

Dua hari aku nggak makan. Nggak kencing. Nggak BAB. Cuma duduk. Makanan yang dikasih aku kasih ke teman sel yang mentalnya kurang.

Hari ketiga, aku dipanggil.

Ruangan kecil. Ada komputer. Ada satu polisi berdiri.

“Ceritakan dari awal. Sampai kamu dilaporkan.”

Aku cerita semua.

“Dia ngasih saya makan sisa ayam bau, Pak. Saya sabar. Saya kerja bertahun-tahun. Kalau majikan laki-laki ke dapur, saya disuruh masuk kamar. Nunggu dia keluar. Baru saya beresin rumah. Bikin susu. Ngepel. Nyuci. Nyetrika. Semua saya lakukan. Tapi nggak pernah dihargai. Selalu disalahkan.

Hari itu, saya pegang pisau. Lagi motong apel buat anaknya. Majikan perempuan datang, teriak-teriak.

‘Kamu nggak usah banyak ngomong! Aku yang bayar kamu!’

Sambil nunjuk-nunjuk.

Makin lama makin nggak karuan. Saya spontan jawab. Pisau masih di tangan, memotong apel.

Dia langsung menelepon polisi. Bilang saya mau bunuh anaknya.

Saya bilang ke polisi,

‘Pak, kalau Bapak nggak percaya, tanya majikan saya. Di rumah banyak CCTV. Minta buka rekamannya. Biar jelas semuanya.’”

Di saat aku lagi diinterogasi…

Tok… tok…

Dua polisi masuk.

Pakai bahasa Melayu mereka bilang ke polisi yang memeriksa aku,

“Pak, kasihan ini pembantu. Nggak dikasih makan sama majikannya.”

Ternyata itu polisi yang menjemput aku dari rumah. Dia menjelaskan semuanya.

Habis itu aku disuruh balik ke sel. Diantar polisi lain.

Aku nggak tahu mereka ngomong apa di ruang interogasi itu. Aku cuma nunggu.

Sampai sore.

Lapar banget.

Jam 09.00 malam, pintunya dibuka.

“Neni, keluar.”

Aku dipindah ke ruang tunggu.

“Mbak, boleh numpang ke air?” tanyaku ke polisi wanita.

Aku diantar ke toilet khusus tamu.

Setelah itu aku duduk lagi di ruang tunggu. Dikasih makan. Dikasih minum.

Terus aku dipanggil ke meja panjang. Kayak kasir pengaduan. Di depannya komputer semua.

Polisi bilang,

“Kamu besok bebas, ya. Mau telepon agen jemput, atau mau diantar ke agen?”

Aku jawab,

“Terserah kalian aja. Terima kasih.”

Aku sujud syukur di situ juga.

“Terima kasih, Pak Polisi. Ya Allah, terima kasih. Sudah adil sama aku.”

Polisi di meja nanya lagi,

“Kasus kamu mau disebarkan atau di-privasi?”

Aku jawab,

“Jangan disebarkan, Pak. Nanti keluarga saya kaget. Di-privasi aja, soalnya aku takut keluarga saya tahu tentang ini.”

“Oke. Tanda tangan sini.”

Dikasih kertas banyak. Bahasa Inggris semua.

“Kalau bisa baca, baca dulu,” kata polisi.

Aku jawab,

“Nggak usah, Pak. Saya percaya.”

Aku tanda tangan.

Polisi senyum.

“Kita tahu kok kamu nggak salah. Dari cara majikan kamu ngomong aja udah kelihatan siapa yang benar, siapa yang salah. Di pisau itu nggak ada sidik jari kamu. Nggak ada bukti pembunuhan. Jadi… kamu bebas.”

Proses udah semua.

Aku disuruh ambil baju-bajuku. Dibawa ke tempat kayak arsip. Banyak banget kotak-kotak. Rapi semua.

Petugas buka satu kotak.

“Ini punya kamu, Neni.”

Aku ganti dari baju tahanan ke baju sendiri.

HP dikembalikan. Dompet. Semua barang-barang aku.

Tangan yang tadi diborgol, sekarang bebas.

Nggak ada bekas merahnya pun.

Polisi mengantar aku ke ruang tunggu.

AC-nya dingin, tapi hati aku anget banget.

Untuk pertama kalinya dalam tiga hari… aku merasa jadi manusia lagi.

Bukan tahanan.

Bukan pembantu.

Tapi Neni.

Yang bebas.

Dan untuk Singapura ini, aku mau bilang dari hati:

Aku respect sama pemerintahan Singapura yang memanusiakan TKI dan dia ramah sama TKI.

Ya, mungkin nggak semuanya diperlakukan seperti itu. Tapi menurut aku, mereka memperlakukan aku dengan sangat baik, sangat rapi, dan sangat hati-hati.


Dan di situ, di kursi ruang tamu lantai 15 itu, dengan borgol di depan semua orang, aku nggak mikir ke depannya akan seperti apa.

Aku nggak mikir besok aku makan apa. Nggak mikir agen bakal jemput atau nggak. Nggak mikir bakal dipenjara berapa lama.

Aku hanya berpikir satu hal:

Aku tidak bersalah dan Allah akan membelaku.

Itu aja.

Kalau kamu hari ini lagi di posisi aku dulu—lagi dituduh, lagi difitnah majikan, lagi disuruh duduk di lantai karena dianggap kotor, lagi tidur di kamar 1×40 cm, lagi dikasih makan sisa—dengerin aku:

Jangan takut.

Selama kamu tidak bersalah, jangan pernah nunduk.

Bilang yang benar.

“Telepon polisi! Silakan!”

Bilang itu dengan keras, walaupun suara kamu gemetar.

Karena kebenaran itu nggak butuh teriak.

Kebenaran itu cuma butuh kamu berani diam dan jujur.

Allah lihat.

Polisi Singapura aja bisa melihat dari cara majikan ngomong siapa yang benar. Apalagi Allah.

Ini kisah nyata aku sendiri.

Aku pernah di posisi ini—diborgol, digiring dari lantai 15, dan tidur tiga hari di sel Bedok.

Sakit.

Tapi aku bebas.

Dan hari ini aku masih bisa nulis novel buat kalian.

Jadi kalau kamu lagi di titik paling bawah, ingat aku.

Kalau aku aja bisa keluar dengan borgol di tangan tapi merdeka di hati, kamu juga bisa.

Sumber: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.ketix.application


Discover more from suaramigrannusantara.org

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

ART Berita BP2MI Buminu Buruh migran CPMI HAM Inggris Kisah Nyata KP2MI migran pekerja migran PMI Sastra TKI TKW True Story
Berita Terkait
DARI AIR MATA MENUJU JEPANG (Kisah Perjuangan Arifin San dan Gaji Pertamanya)
SASTRA MIGRAN
DARI AIR MATA MENUJU JEPANG (Kisah Perjuangan Arifin San dan Gaji Pertamanya)
2 Oct 2026
AKU LARI BUKAN KARENA JAHAT, TAPI KARENA INGIN TETAP JADI MANUSIA (Kisah Nyata)
SASTRA MIGRAN
AKU LARI BUKAN KARENA JAHAT, TAPI KARENA INGIN TETAP JADI MANUSIA (Kisah Nyata)
1 Oct 2026
RINDU YANG BERAT
SASTRA MIGRAN
RINDU YANG BERAT
29 Sep 2026