Perubahan Iklim Picu Migrasi dan Pengungsian di Indonesia, 3,5 Juta Orang Terdampak
JAKARTA — Indonesia mencatat rata-rata 4,5 bencana setiap hari sepanjang Januari–Oktober 2024, dengan total 1.270 peristiwa bencana yang berdampak langsung terhadap lebih dari 3,5 juta orang dan memaksa sekitar 250.000 orang mengungsi. Data ini, yang dipublikasikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 8 Oktober 2024, menempatkan Indonesia di antara 10 negara paling rentan terhadap perubahan iklim di dunia.
\n\n
“Migrasi bukan lagi sekadar strategi ekonomi. Bagi banyak komunitas pesisir dan daerah rawan bencana, pindah adalah soal kelangsungan hidup,” kata peneliti Universitas Airlangga dalam kajian bertema migrasi internasional sebagai strategi adaptasi perubahan iklim (UNAIR, 2024).
\n\n
Riset empiris menunjukkan bahwa Zona Risiko Bencana (ZRPP) memiliki korelasi positif yang signifikan terhadap keputusan emigrasi internasional. Artinya, semakin tinggi ancaman bencana iklim di suatu wilayah, semakin besar peluang penduduknya mencari nafkah di luar negeri. Pola ini terlihat jelas di NTT, Maluku, dan pesisir selatan Jawa, di mana migrasi internasional menjadi “paket adaptasi” bagi komunitas yang kehilangan mata pencaharian akibat gagal panen atau kerusakan infrastruktur akibat banjir.
\n\n
Suara Migran Nusantara melaporkan bahwa pemerintah mulai merespons tren ini dengan “memprioritaskan transmigran Papua dan Maluku serta warga perbatasan dalam program PMI terampil 2026 dengan dukungan KUR PMI” — sebuah langkah yang dipandang positif namun perlu dibarengi dengan program mitigasi bencana yang memadai agar migrasi tidak menjadi satu-satunya pilihan bagi masyarakat yang terdampak iklim.
\n\n
Sumber: Republika ESG Now (2024); UNAIR (2024); Suara Migran Nusantara (2026); BNPB (2024).