Dari Pekerja Migran Menjadi Kreator Digital, Ketika Pengalaman Merantau Menjadi Konten
JAKARTA — Media sosial telah membuka ruang baru bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) untuk membangun identitas, berbagi pengalaman, sekaligus menciptakan sumber penghasilan tambahan. Sejumlah PMI dan mantan PMI bahkan berhasil dikenal sebagai kreator konten setelah menjadikan kehidupan di negara penempatan sebagai materi utama dalam video mereka.
Fenomena tersebut tidak sepenuhnya baru. Sebelum TikTok berkembang menjadi salah satu platform utama, para pekerja migran Indonesia di Hong Kong, Taiwan, Korea Selatan dan sejumlah negara lain telah menggunakan YouTube dan media sosial untuk mendokumentasikan kehidupan sehari-hari, berbagi informasi mengenai pekerjaan, hingga menyampaikan persoalan yang dihadapi pekerja migran.
Salah satu nama yang belakangan mendapat perhatian di Taiwan adalah Deni Setiawan, yang dikenal dengan nama Kadal Taichung. PMI asal Banyumas tersebut membangun popularitas melalui konten humor yang mengangkat kehidupan sehari-hari pekerja migran di Taiwan.
Konten Deni menampilkan gaya komunikasi yang sederhana dan spontan dengan perpaduan bahasa Indonesia, Jawa dan Mandarin. Gaya tersebut justru menjadi ciri khas yang membuat kontennya dikenal di kalangan masyarakat Indonesia maupun pengguna media sosial di Taiwan. Pada 2026, sejumlah pemberitaan mencatat akun Kadal Taichung telah memiliki puluhan ribu pengikut di berbagai platform.
Popularitas Kadal Taichung menunjukkan bahwa konten mengenai kehidupan PMI tidak selalu harus dikemas dalam bentuk formal. Pengalaman sehari-hari, persoalan bahasa, interaksi dengan lingkungan sekitar, kehidupan di tempat kerja dan humor mengenai perbedaan budaya dapat menjadi materi yang memiliki kedekatan dengan audiens.
Deni juga pernah menyampaikan keinginannya untuk tidak selamanya bekerja di Taiwan dan suatu saat kembali ke Indonesia untuk membangun usaha. Pesan yang disampaikannya kepada sesama PMI juga berkaitan dengan pemanfaatan media sosial secara kreatif serta pentingnya menghasilkan konten sendiri, bukan sekadar mengambil karya orang lain.
Di luar Taiwan, fenomena kreator dari kalangan pekerja migran juga telah muncul di Hong Kong. Salah satunya adalah Elly Agustina, yang sebelumnya bekerja sebagai pekerja migran Indonesia di Hong Kong dan menggunakan YouTube untuk berbagi informasi mengenai kehidupan serta persoalan pekerja migran.
Elly dikenal bukan hanya karena konten keseharian, tetapi juga karena keinginannya memberikan informasi praktis kepada sesama pekerja migran dan calon pekerja migran. Dalam pemberitaan VICE Indonesia, Elly menyampaikan bahwa salah satu alasan membuat vlog adalah agar pekerja migran mengetahui aturan dan memahami hak mereka sehingga tidak mudah mengalami perlakuan yang merugikan.
Penggunaan media sosial oleh Elly juga memperlihatkan fungsi lain dari konten PMI. Media sosial tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi dapat menjadi ruang pertukaran informasi yang berasal langsung dari pengalaman pekerja.
Di Taiwan terdapat pula Putri Ariyanti, yang dikenal melalui kanal PutriOshyn16. Ia mulai bekerja di Taiwan pada 2012 dan mulai membuat kanal YouTube pada 2017. Kontennya banyak menampilkan kehidupan sehari-hari sebagai pekerja migran domestik, termasuk aktivitas bersama lansia yang menjadi tanggung jawabnya serta kegiatan ketika memperoleh waktu libur.
Konten semacam itu secara tidak langsung memperlihatkan sisi lain kehidupan PMI yang sering kali tidak muncul dalam pemberitaan. Pekerja migran tidak hanya berada dalam posisi sebagai pencari nafkah, tetapi juga memiliki kehidupan sosial, hobi, kreativitas, jaringan pertemanan dan kemampuan memanfaatkan teknologi digital.
Fenomena tersebut juga mengubah cara sebagian pekerja migran membangun representasi dirinya. Jika selama bertahun-tahun PMI kerap diberitakan terutama ketika menghadapi persoalan, seperti kekerasan, kecelakaan, deportasi atau persoalan ketenagakerjaan, media sosial memungkinkan pekerja menunjukkan kehidupan mereka dari perspektif sendiri.
Dalam kajian mengenai vlog buruh migran, fenomena tersebut bahkan dipandang sebagai bentuk pembentukan identitas digital. Pekerja migran dapat menggunakan media sosial untuk menyampaikan pengalaman secara langsung dan membangun narasi mengenai dirinya tanpa sepenuhnya bergantung pada media arus utama atau institusi yang selama ini menjadi sumber informasi tentang migrasi tenaga kerja.
Perkembangan TikTok kemudian memperluas ruang tersebut. Format video pendek memungkinkan cerita mengenai kehidupan PMI dikemas lebih cepat, sederhana dan mudah dibagikan. Logat daerah, humor, pengalaman bekerja, kuliner, kehidupan di asrama, perjalanan saat libur hingga tips menghemat penghasilan dapat berubah menjadi konten yang menjangkau audiens luas.
Namun, tidak semua popularitas kreator PMI harus dipahami sebagai ukuran keberhasilan yang sama. Sebagian dikenal luas di komunitas WNI di negara tertentu, sementara sebagian lainnya memiliki audiens lebih besar secara nasional. Karena itu, istilah “terkenal” dalam konteks kreator PMI perlu ditempatkan sesuai ruang digital dan komunitas yang menjadi audiensnya.
Salah satu contoh lain adalah Alman Mulyana, mantan pekerja migran yang membangun kanal digital melalui konten mengenai pengalaman bekerja dan kehidupan di Arab Saudi. Kanal YouTube-nya kemudian berkembang menjadi salah satu kanal besar yang berkaitan dengan pengalaman perantauan dan kehidupan di luar negeri. Data pihak ketiga yang diperbarui pada 2026 mencatat kanal tersebut telah memiliki jutaan pelanggan.
Perjalanan Alman menunjukkan bahwa pengalaman sebagai pekerja migran dapat menjadi modal cerita bahkan setelah seseorang tidak lagi bekerja di negara penempatan. Pengalaman migrasi menjadi aset naratif yang dapat dikembangkan menjadi aktivitas ekonomi digital.
Fenomena serupa terlihat pada Lucky Alpi, mantan PMI asal Blitar yang mulai membangun bisnis online ketika masih bekerja di Taiwan. Ia memanfaatkan waktu istirahat untuk menawarkan pakaian dan melayani pembeli secara daring. Setelah kembali ke Indonesia pada 2022, usaha tersebut dikembangkan kembali dari rumah dan kemudian diperluas ke produk perabot rumah tangga.
Dalam kasus Lucky, media sosial tidak berhenti sebagai tempat membangun popularitas. Platform digital digunakan sebagai sarana pemasaran dan pengembangan usaha. Pengalaman sebagai PMI menjadi bagian dari proses belajar memahami konsumen, mengelola pesanan dan membangun hubungan dengan pelanggan.
Kisah tersebut memperlihatkan satu perkembangan penting dalam ekosistem PMI, yaitu munculnya ekonomi digital berbasis pengalaman migrasi. Pekerja migran dapat memperoleh penghasilan bukan hanya dari pekerjaan utama di negara penempatan, tetapi juga melalui konten, pemasaran digital, perdagangan daring, afiliasi, maupun usaha yang dibangun setelah kembali ke Indonesia.
Perubahan ini memiliki implikasi terhadap program pemberdayaan PMI. Literasi digital tidak lagi cukup dipahami sebagai kemampuan menggunakan aplikasi atau media sosial. Pekerja migran juga membutuhkan pengetahuan mengenai produksi konten, keamanan digital, hak cipta, monetisasi, pemasaran daring, pengelolaan keuangan dan perlindungan data pribadi.
KP2MI sendiri dalam program pemberdayaan PMI di Taiwan telah memasukkan kewirausahaan digital dan ekonomi kreatif sebagai salah satu materi. Program tersebut mencakup pembahasan mengenai bisnis online, dropshipping, menjadi kreator konten produktif, pengelolaan toko online dan literasi keuangan digital.
Artinya, perkembangan kreator dari kalangan PMI dapat menjadi bagian dari agenda pemberdayaan yang lebih luas. Pekerja migran memiliki pengalaman hidup dan jaringan sosial yang dapat dikembangkan menjadi modal ekonomi apabila didukung dengan literasi digital dan pendampingan yang tepat.
Namun, ruang digital juga memiliki risiko. Popularitas dapat mendorong sebagian kreator mengejar jumlah penonton dan interaksi dengan mengabaikan keamanan pribadi, privasi, kontrak kerja, atau aturan negara tempat mereka bekerja.
PMI yang membuat konten juga perlu memahami batas antara pengalaman pribadi dan informasi yang dapat berdampak terhadap orang lain. Informasi mengenai majikan, tempat kerja, dokumen, lokasi tempat tinggal, identitas rekan kerja atau persoalan internal tidak selalu dapat dipublikasikan tanpa konsekuensi.
Risiko lainnya adalah penyebaran informasi yang tidak terverifikasi. Ketika seorang kreator memiliki banyak pengikut, pengalaman pribadi dapat dianggap sebagai aturan umum oleh audiens. Padahal kondisi kontrak, negara tujuan, jenis pekerjaan, perusahaan penempatan dan aturan ketenagakerjaan setiap PMI dapat berbeda.
Karena itu, kreator PMI yang membagikan informasi mengenai migrasi kerja memiliki tanggung jawab tambahan untuk membedakan antara pengalaman pribadi, informasi resmi dan opini. Konten mengenai gaji, biaya keberangkatan, jenis pekerjaan, aturan visa atau hak pekerja sebaiknya merujuk pada sumber resmi ketika menyampaikan informasi yang bersifat umum.
Di sisi lain, pemerintah dan lembaga pelindungan PMI juga dapat memanfaatkan jaringan kreator tersebut sebagai saluran komunikasi publik. Kreator yang memiliki kedekatan dengan komunitas PMI dapat membantu menyebarkan informasi mengenai migrasi aman, prosedur resmi, layanan pengaduan, jaminan sosial dan hak pekerja dengan bahasa yang lebih mudah dipahami.
Hal tersebut menjadi penting karena informasi resmi pemerintah tidak selalu mudah menjangkau calon PMI maupun pekerja yang telah berada di luar negeri. Kreator komunitas memiliki kedekatan dengan audiens dan memahami bahasa sehari-hari yang digunakan sesama pekerja migran.
Namun, kerja sama semacam itu perlu tetap menjaga independensi kreator. Konten edukasi seharusnya tidak berubah menjadi sekadar promosi program pemerintah. Pengalaman dan persoalan nyata PMI tetap perlu mendapatkan ruang agar komunikasi publik tidak kehilangan kepercayaan audiens.
Fenomena kreator PMI juga membawa perubahan terhadap cara masyarakat melihat pekerja migran. Mereka tidak hanya hadir sebagai angka statistik penempatan atau objek pemberitaan ketika mengalami persoalan. Sebagian pekerja mampu menjadi komunikator, pengusaha digital, entertainer, pendidik sebaya, bahkan pembangun komunitas.
Pada saat yang sama, tidak tepat pula menjadikan kisah sukses sejumlah kreator sebagai gambaran bahwa seluruh PMI memiliki kondisi yang sama. Popularitas di media sosial merupakan hasil kombinasi pengalaman, kreativitas, konsistensi, algoritma, jaringan dan momentum. Tidak semua pekerja migran memiliki akses atau kesempatan yang sama.
Karena itu, cerita tentang Kadal Taichung, Elly Agustina, Putri Ariyanti, Alman Mulyana, Lucky Alpi dan kreator lainnya lebih tepat dibaca sebagai bagian dari perubahan lanskap kehidupan pekerja migran di era digital.
Mereka menunjukkan bahwa pengalaman merantau dapat menghasilkan lebih dari sekadar remitansi. Ada pengalaman, keterampilan, jaringan, cerita dan pengetahuan yang dapat dikembangkan menjadi modal sosial maupun ekonomi.
Bagi kebijakan pelindungan PMI, perkembangan ini membuka ruang baru. Program pemerintah tidak hanya perlu menyiapkan pekerja agar mampu bekerja di luar negeri, tetapi juga membekali mereka dengan literasi digital, keamanan digital, kewirausahaan, pengelolaan keuangan dan kemampuan membangun usaha setelah kembali.
Pada akhirnya, media sosial telah membuat sebagian PMI memiliki mikrofon sendiri. Mereka dapat menceritakan kehidupan dari tempat kerja, menunjukkan realitas negara penempatan, berbagi pengalaman kepada sesama pekerja, dan membangun peluang ekonomi dari kreativitas.
Dari pekerja migran menjadi kreator digital, perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa migrasi tenaga kerja tidak hanya menghasilkan cerita tentang keberangkatan dan kepulangan. Di tengah perkembangan ekonomi digital, pengalaman hidup di negeri orang juga dapat berubah menjadi pengetahuan, identitas, komunitas dan peluang usaha, selama dikelola secara aman, bertanggung jawab dan tidak mengabaikan hak serta perlindungan pekerja migran.
Leave a Reply