Dari SMK Go Global ke Malaysia, CPMI Nunukan Diberangkatkan melalui Jalur Resmi
Nunukan — Program SMK Go Global mulai menghasilkan penempatan calon pekerja migran Indonesia (CPMI) dari wilayah perbatasan. Di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, peserta program dipersiapkan untuk bekerja di sektor perkebunan kelapa sawit di Malaysia melalui mekanisme penempatan resmi.
Pada Kamis, 17 September 2026, BP3MI Kalimantan Utara bersama sejumlah pemangku kepentingan melepas 12 CPMI Program SMK Go Global Tahun 2026 sektor perkebunan ke Malaysia. Pelepasan berlangsung di Pelabuhan Internasional Tunon Taka, Kabupaten Nunukan.
Para peserta sebelumnya telah mengikuti pelatihan, pembekalan dan Orientasi Pra Pemberangkatan (OPP) sebagai bagian dari persiapan sebelum bekerja di negara tujuan. Mereka juga mengikuti pelatihan khusus sektor perkebunan melalui program Plantation Worker.
Sebelumnya, sebanyak 20 peserta mengikuti pelatihan Plantation Worker di LPK Roby Perbatasan, Sebatik, Kabupaten Nunukan. Pelatihan yang dimulai 31 Agustus 2026 tersebut berlangsung sekitar 15 hari dengan materi pekerjaan perkebunan kelapa sawit, mulai dari pembibitan, penanaman, pemeliharaan hingga pemanenan.
Pelatihan Disesuaikan dengan Kebutuhan Perkebunan
Program SMK Go Global di wilayah Nunukan diarahkan untuk memastikan calon pekerja memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan di negara tujuan.
Pelatihan Plantation Worker menjadi bagian dari proses tersebut. Peserta tidak hanya mendapatkan pembekalan mengenai pekerjaan teknis, tetapi juga dipersiapkan agar memahami lingkungan dan tuntutan kerja di sektor perkebunan.
Pendekatan tersebut sejalan dengan tujuan nasional SMK Go Global yang dirancang sebagai jembatan antara pendidikan dan pelatihan vokasi dengan kebutuhan pasar kerja internasional.
Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) menyebut program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kompetensi, kesiapan kerja dan pemahaman calon PMI sebelum ditempatkan di luar negeri.
Dengan demikian, keberangkatan CPMI bukan sekadar proses mobilisasi tenaga kerja, tetapi didahului dengan tahapan pelatihan dan pembekalan.
Malaysia Menjadi Salah Satu Pasar Kerja
Malaysia menjadi salah satu negara tujuan yang dikembangkan dalam pelaksanaan SMK Go Global, selain sejumlah negara seperti Jepang, Korea Selatan, Jerman dan negara tujuan lainnya.
Di Kalimantan Utara, Malaysia memiliki kedekatan geografis dengan wilayah Nunukan. Posisi tersebut menjadikan mobilitas tenaga kerja antara kedua wilayah memiliki karakteristik tersendiri.
Dalam evaluasi penempatan PMI di wilayah perbatasan yang dilakukan BP3MI Kalimantan Utara pada Juli 2026, program SMK Go Global untuk wilayah Kaltara pada tahap awal menetapkan kuota 220 CPMI, dengan fokus sementara pada sektor perkebunan kelapa sawit sesuai alokasi kuota dari KP2MI.
Program tersebut juga dirancang melalui tahapan seleksi, pelatihan keahlian dan bahasa, sertifikasi profesi serta job matching dengan mitra industri dan Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia atau P3MI.
Penempatan Melalui P3MI
Setelah peserta menyelesaikan pelatihan dan memenuhi persyaratan penempatan, proses keberangkatan dilakukan melalui mekanisme resmi dengan melibatkan P3MI.
Keterlibatan P3MI menjadi bagian dari mekanisme penempatan pekerja migran secara prosedural. Perusahaan penempatan memiliki tanggung jawab dalam proses penempatan sesuai ketentuan yang berlaku.
Skema tersebut sekaligus membedakan program penempatan resmi dengan keberangkatan melalui agen perseorangan atau jalur tidak prosedural yang dapat meningkatkan risiko bagi pekerja.
KP2MI sebelumnya menegaskan bahwa salah satu tujuan SMK Go Global adalah mendorong masyarakat menggunakan jalur penempatan resmi dengan mendapatkan pelatihan, sertifikasi dan pendampingan sebelum bekerja di luar negeri.
Perlindungan Tidak Berhenti di Pelabuhan
Keberangkatan melalui jalur resmi bukan berarti proses perlindungan selesai ketika CPMI meninggalkan Indonesia.
Dalam pelaksanaan penempatan, pekerja tetap memiliki hak atas informasi mengenai kontrak kerja, pemberi kerja, upah, jam kerja, kondisi kerja, jaminan sosial dan mekanisme pengaduan.
Karena itu, pemahaman terhadap isi perjanjian kerja menjadi bagian penting sebelum pekerja berangkat.
Peserta juga perlu mengetahui kepada siapa mereka harus melapor ketika menghadapi persoalan di negara tujuan, baik yang berkaitan dengan hubungan kerja maupun persoalan lain yang menyangkut keselamatan dan perlindungan.
Dari Perbatasan ke Pasar Kerja Global
Bagi Nunukan, keberangkatan peserta SMK Go Global memiliki dimensi tersendiri. Wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia memiliki pengalaman panjang dalam mobilitas penduduk dan tenaga kerja lintas batas.
Program pemerintah mencoba menggeser pola mobilitas tersebut ke dalam sistem penempatan yang lebih terstruktur, terlatih dan terdata.
Dalam konteks itu, pelatihan menjadi salah satu instrumen penting. Peserta dipersiapkan bukan hanya untuk berangkat, tetapi untuk memiliki kompetensi yang sesuai dengan pekerjaan yang akan dijalani.
Kepala BP3MI Kalimantan Utara Kombes Pol Andi M Ichsan menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang mendukung pelaksanaan SMK Go Global, khususnya dalam mempersiapkan CPMI agar memiliki kompetensi dan kesiapan sebelum bekerja di luar negeri.
Sementara itu, Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kabupaten Nunukan Muhammad Amin menyebut keberangkatan tersebut sebagai awal perjalanan baru bagi para peserta yang telah dipersiapkan untuk bekerja di luar negeri.
Tantangan Setelah Berangkat
Penempatan PMI melalui program pemerintah juga perlu diikuti dengan pemantauan setelah pekerja tiba di negara tujuan.
Data keberangkatan perlu terhubung dengan informasi mengenai tempat kerja, perusahaan, pemberi kerja dan keberadaan pekerja. Dengan demikian, ketika terjadi persoalan, pemerintah dapat melakukan penanganan secara lebih cepat.
Dalam konteks pekerja di Malaysia, koordinasi antara KP2MI, BP3MI, P3MI dan perwakilan RI menjadi bagian penting dalam memastikan perlindungan tetap berjalan selama kontrak kerja.
Hal tersebut juga penting karena keberhasilan program tidak semata-mata diukur dari berapa banyak peserta yang diberangkatkan.
Indikator lain yang tidak kalah penting adalah apakah pekerja memperoleh pekerjaan sesuai kontrak, mendapatkan haknya, bekerja dalam kondisi aman dan dapat menyelesaikan masa kerja tanpa mengalami persoalan yang tidak tertangani.
SMK Go Global dan Agenda Penempatan Prosedural
Secara nasional, pemerintah menempatkan SMK Go Global sebagai salah satu program untuk membuka akses tenaga kerja Indonesia ke pasar kerja internasional.
Wakil Menteri P2MI Christina Aryani sebelumnya menyatakan pemerintah menargetkan penempatan 500 ribu PMI hingga 2029 melalui program tersebut. Program ini tidak hanya diarahkan pada pelatihan, tetapi juga menghubungkan kompetensi peserta dengan kebutuhan industri dan peluang penempatan.
Pada 2026, target program SMK Go Global mencapai 40.000 peserta, dengan pelaksanaan dalam dua batch. Hingga 17 September 2026, pendaftaran Batch I tercatat mencapai 18.110 peserta, sementara 4.601 peserta sedang mengikuti pelatihan.
Dengan angka tersebut, keberangkatan peserta dari Nunukan menjadi salah satu bagian dari implementasi program nasional di tingkat daerah.
Dari Pelatihan hingga Perlindungan
Pengiriman CPMI dari Nunukan ke Malaysia menunjukkan bahwa program pelatihan vokasi dapat dihubungkan secara langsung dengan kebutuhan pasar kerja luar negeri.
Namun, rantai tersebut harus dijaga dari hulu hingga hilir: seleksi, pelatihan, sertifikasi, penempatan, keberangkatan, pemantauan selama bekerja hingga kepulangan.
Bagi peserta, bekerja di luar negeri bukan hanya kesempatan mendapatkan penghasilan. Mereka juga membawa konsekuensi sebagai pekerja yang berada di bawah sistem hukum negara tujuan dan membutuhkan perlindungan ketika menghadapi persoalan.
Karena itu, keberangkatan melalui jalur resmi menjadi penting, tetapi harus berjalan beriringan dengan keterbukaan kontrak, pemenuhan hak dan mekanisme pengaduan yang efektif.
Dari Nunukan, program SMK Go Global kini memasuki tahap yang lebih konkret: keterampilan yang diperoleh di ruang pelatihan dibawa ke tempat kerja di perkebunan Malaysia.
Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa peluang tersebut benar-benar menjadi pekerjaan yang layak, aman dan terlindungi bagi para pekerja migran Indonesia.
Leave a Reply